Bappenas Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur di Atas 6 Persen
Bappenas mendorong Jawa Timur untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen dengan fokus pada penurunan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja.

Poin Utama
- ▸Target pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di atas 6 persen
- ▸Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 5-5,5 persen
- ▸Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 sedang disusun
BERITAEKONOMI — (2026/04/17) Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy menekankan pentingnya Provinsi Jawa Timur untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen. Dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Provinsi (Musrenbangprov) Jawa Timur, ia menjelaskan bahwa pencapaian ini harus disertai dengan peningkatan kualitas pembangunan, termasuk penurunan angka kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja.
Rachmat Pambudy mengungkapkan bahwa Bappenas bersama pemerintah daerah sedang menyusun Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027. RKP ini akan menjadi bagian dari kerangka pembangunan nasional yang terintegrasi, bertujuan untuk mengatasi ketimpangan sosial ekonomi di Jawa Timur. Hal ini penting karena penurunan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan sering kali menjadi indikator keberhasilan program pembangunan di suatu daerah.
Dalam konteks perekonomian Indonesia, Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan potensi yang besar. Dengan populasi yang padat dan sumber daya alam yang melimpah, provinsi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Target pertumbuhan di atas 6 persen menjadi tantangan tersendiri, terutama di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global dan potensi dampak dari inflasi.
Menurut data terkini, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan diperkirakan berada pada kisaran 5-5,5 persen. Oleh karena itu, pencapaian Jawa Timur di atas 6 persen akan menjadi indikator positif bagi kemajuan ekonomi daerah dan nasional. Hal ini juga akan menarik perhatian investor yang mencari peluang di sektor-sektor yang berpotensi berkembang di wilayah tersebut.
Dari sisi dampak, jika Jawa Timur dapat mencapai target ini, akan ada efek positif yang lebih luas terhadap pengembangan infrastruktur dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan peningkatan lapangan kerja, diharapkan angka pengangguran akan menurun, dan daya beli masyarakat dapat meningkat, yang pada gilirannya berkontribusi pada pertumbuhan sektor konsumsi.
Pencapaian target ini juga akan menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dan Bappenas untuk menciptakan kebijakan yang tepat guna. Rachmat Pambudy mengingatkan bahwa penting untuk melibatkan semua elemen masyarakat dalam proses pembangunan agar hasilnya dapat dirasakan secara merata.
“Dengan kerja keras dan kolaborasi, kami percaya target ini bukanlah hal yang mustahil,” ungkapnya. Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana keselarasan antara kebijakan pembangunan dan aspirasi masyarakat dapat terwujud untuk mencapai pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan?



