Kinerja Industri Pengolahan dan Ekspor Indonesia Stabil di Tengah Gejolak Global
Industri pengolahan Indonesia menunjukkan ekspansi, sementara ekspor tetap terjaga meski ada gejolak geopolitik, menurut laporan Bank Indonesia dan LPEI.

Poin Utama
- ▸Indeks industri pengolahan mencapai 52,03 persen
- ▸Volume produksi, persediaan barang jadi, dan total pesanan masing-masing berada di angka 54,07 persen, 54,43 persen, dan 53,20 persen
BERITAEKONOMI — (2026/04/17) Kinerja industri pengolahan Indonesia pada triwulan I 2026 mengalami peningkatan yang signifikan, dengan indeks mencapai 52,03 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sektor ini berada dalam fase ekspansi, didorong oleh volume persediaan barang jadi dan pesanan yang terus meningkat. Di sisi lain, meskipun ada gejolak geopolitik yang mempengaruhi perdagangan global, aktivitas ekspor Indonesia tetap terjaga berkat dukungan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa Prompt Manufacturing Index (PMI) untuk triwulan pertama tahun 2026 menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Angka 52,03 persen menunjukkan optimisme yang kuat di kalangan pelaku industri. Peningkatan ini mencerminkan pertumbuhan dalam volume produksi, persediaan barang jadi, dan total pesanan yang masing-masing berada di angka 54,07 persen, 54,43 persen, dan 53,20 persen. Ini sangat penting bagi perekonomian Indonesia karena sektor industri pengolahan merupakan salah satu pilar utama dalam penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.
Dalam konteks ekspor, LPEI menyatakan bahwa meskipun terdapat tantangan akibat ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, aktivitas ekspor Indonesia masih bisa dipertahankan. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI, Sulaeman, yang menegaskan bahwa semua jalur ekspor tetap berjalan dengan baik. LPEI juga mengandalkan program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) untuk memberikan dukungan pembiayaan yang komprehensif kepada eksportir, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan ekspor.
Aktivitas ekspor yang stabil ini menjadi kunci untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah krisis global yang berpotensi mengganggu pasokan bahan baku dan nilai tukar. Terlebih lagi, konflik di Selat Hormuz yang mempengaruhi pasokan plastik dapat berdampak pada berbagai sektor industri di dalam negeri. Namun, LPEI memastikan bahwa dukungan terhadap eksportir akan terus berlanjut untuk menjaga daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa dengan adanya dukungan kebijakan yang tepat dan sinergi antara lembaga pemerintah dan sektor industri, Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan dalam sektor pengolahan dan ekspor. Hal ini akan sangat bergantung pada kemampuan untuk mengatasi tantangan global dan memanfaatkan peluang yang ada di pasar internasional. "Kita harus siap menghadapi dinamika pasar global yang terus berubah, dan menjaga agar industri kita tetap kompetitif," kata Sulaeman.


