Data Intelligence
Pasar
PASAR7.043,03▲ 1.02%
LQ45682,76▲ 1.22%
USD/IDR17.430▲ 0.82%
CNY/IDR2.553— 0.00%
BBCA6.025▲ 2.12%
BBRI3.150▲ 3.62%
TLKM2.900▲ 0.35%
ASII5.850▲ 1.16%
ADRO2.490▼ 0.40%
ANTM3.660▼ 3.68%
EMAS$4.558,40▲ 0.86%
BTC$80.969▲ 1.43%
PASAR7.043,03▲ 1.02%
LQ45682,76▲ 1.22%
USD/IDR17.430▲ 0.82%
CNY/IDR2.553— 0.00%
BBCA6.025▲ 2.12%
BBRI3.150▲ 3.62%
TLKM2.900▲ 0.35%
ASII5.850▲ 1.16%
ADRO2.490▼ 0.40%
ANTM3.660▼ 3.68%
EMAS$4.558,40▲ 0.86%
BTC$80.969▲ 1.43%
Delayed 1h
Beranda/Industri & Perdagangan/Retail & E-Commerce
Retail & E-Commerce

Pencabutan Insentif Mobil Listrik Dikhawatirkan Menghambat Transisi Pasar

Pemerintah mencabut insentif kendaraan listrik, mengancam transisi pasar ke segmen pembeli pertama yang lebih luas.

BE
Ditulis oleh
Redaksi BeritaEkonomi
25 April 2026 · 16:43 WIB
1 menit baca
Pemerintah mencabut insentif kendaraan listrik.
FOTOPencabutan insentif kendaraan listrik oleh pemerintah dikhawatirkan menghambat transisi pasar ke segmen pembeli pertama.

Poin Utama

  • Harga awal kendaraan listrik mencapai di atas Rp 500 juta
  • Model kendaraan listrik terjangkau mulai dari Rp 200 jutaan

BERITAEKONOMI — (2026/04/25) Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mencabut insentif bagi kendaraan listrik, termasuk bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) dan pajak kendaraan bermotor (PKB) tahunan yang sebelumnya dinikmati oleh pembeli. Langkah ini diambil saat kendaraan listrik sedang mengalami 'bulan madu' dengan pembeli pertama.

Insentif tersebut sebelumnya membantu menurunkan biaya kepemilikan kendaraan listrik, yang mendorong konsumen dari segmen yang lebih luas untuk mempertimbangkan pembelian. Sebelumnya, mobil listrik cenderung dibeli sebagai kendaraan kedua atau ketiga oleh mereka yang sudah memiliki kendaraan konvensional, mengingat harga awalnya yang tinggi, mencapai di atas Rp 500 juta.

Namun, dengan adanya model kendaraan listrik yang lebih terjangkau, mulai dari Rp 200 jutaan, pasar mobil listrik mengalami perluasan. Konsumen yang sebelumnya tidak mempertimbangkan kendaraan listrik kini memiliki lebih banyak pilihan yang ramah kantong. Ini menjadi momentum penting bagi transisi ke kendaraan listrik yang lebih masif.

Meski demikian, pencabutan insentif ini dikhawatirkan dapat menghambat transisi tersebut. Pasar yang baru saja mulai terbuka bagi pembeli pertama kini harus menghadapi biaya tambahan, yang dapat mengurangi minat mereka untuk beralih ke kendaraan listrik.

Keputusan ini memicu kekhawatiran bahwa pertumbuhan pasar kendaraan listrik yang baru saja dimulai bisa terhambat, terutama di tengah upaya global untuk mengurangi emisi karbon melalui adopsi kendaraan ramah lingkungan.

Baca lainnya

Semua Liputan