Menkeu Purbaya Tegaskan Komitmen Jaga Defisit APBN di Tengah Pengawasan Utang
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen untuk menjaga defisit APBN sambil menerima apresiasi dari lembaga global terkait strategi fiskal Indonesia.

Poin Utama
- ▸Defisit APBN ditargetkan di bawah 3% terhadap PDB
- ▸Optimisme untuk mempertahankan defisit APBN Tahun Anggaran 2025
BERITAEKONOMI — (2026/04/16) Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap perhatian lembaga pemeringkat Standard & Poor's Global Ratings (S&P) yang mengungkapkan kekhawatiran terkait rasio pembayaran utang Indonesia. Purbaya meyakinkan bahwa kondisi fiskal RI masih dapat dikendalikan dan belum mencapai level yang berbahaya.
Purbaya menyatakan, dalam diskusi dengan S&P, pihaknya memberikan penjelasan rinci mengenai kondisi fiskal Indonesia, termasuk langkah-langkah untuk menjaga defisit APBN agar tetap aman. Hal ini menjadi sangat penting mengingat kebutuhan untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi di tengah tantangan global. Kinerja fiskal yang baik akan berkontribusi pada pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan meningkatkan daya saing Indonesia di mata dunia.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga melaporkan bahwa berbagai lembaga internasional, termasuk Bank Dunia, memberikan apresiasi terhadap strategi kebijakan fiskal Indonesia. Hasil ini diperoleh setelah rangkaian pertemuan strategis di Washington DC, di mana Menkeu menjelaskan arah dan komitmen kebijakan fiskal pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Bank Dunia dan lembaga pemeringkat amat puas dengan penjelasan tentang strategi kita. Jadi, keraguan tentang apakah kita bisa menjalankan kebijakan fiskal yang baik dan menciptakan pertumbuhan yang baik pada saat bersamaan sepertinya sudah hilang,” ujar Purbaya. Pengakuan ini diharapkan dapat menguatkan posisi Indonesia dalam mendapatkan akses pembiayaan yang lebih baik di kancah internasional.
Ke depan, Purbaya optimis bahwa defisit APBN untuk Tahun Anggaran 2025 dapat dipertahankan dengan baik. Dengan menjaga keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan, serta melanjutkan reformasi perpajakan, pemerintah berupaya untuk menciptakan ruang fiskal yang memadai bagi investasi dan pembangunan. Seiring dengan upaya tersebut, diharapkan dapat terwujud pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Dalam konteks ini, tantangan utang tetap menjadi perhatian utama bagi pemerintah. Purbaya menekankan pentingnya pengelolaan utang yang prudent agar tidak mengganggu kesehatan fiskal dan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. “Kami akan terus memantau dan mengelola utang secara hati-hati agar tetap dalam batas aman,” imbuhnya. Dengan pendekatan yang hati-hati dan strategis, pemerintah yakin dapat menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor di masa mendatang.

